06.03.09
Dukung Ibu Prita Mulyasari
Popularity: 1% [?]
After all, we are all truly just an ordinary people, dont we?
Sebagai pengguna rutin jalan tol, angka petunjuk kilometer di tengah antara jalan kiri dan kanan, amatlah penting buat saya. Selain sebagai petunjuk sudah berapa jauh saya berjalan, juga sebagai patokan di mana saya berada, dan akan berapa jauh lagi saya akan sampai di pintu keluar tujuan saya. Tentunya selain untuk mengurangi rasa bosan bila berkendara dalam kesendirian.
Dari sekian banyak petunjuk kilometer yang ada, ada satu yang hampir selalu mengusik perhatian saya. Letaknya di cawang, di antara tol dalam kota – cawang – cikampek.
Sampai saat ini, hanya papan petunjuk itulah (yang saya ketahui), yang menunjukkan angka NOL!
Di titik itulah, awal perhitungan kilometer tol cawang – grogol – pluit di mulai.
Di titik itulah, awal perhitungan kilometer tol cawang – cikampek – padalarang – cileunyi di mulai.
Dari titik itu juga, angka 31 di tol cawang – cikampek menandakan pintu keluar untuk cikarang.
Dari titik itu pula, angka 12 berarti pintu keluar di depan slipi jaya berjarak 12 km dari titik nol tersebut.
Dari kilometer NOL itulah, perhitungan di mulai.
Di sadari atau tidak, segala sesuatu dalam kehidupan ini di mulai dari titik NOL. Titik NOL sebagai titik awal, dalam setiap langkah, dalam setiap kegiatan, dalam setiap aktivitas, utamanya kita sebagai manusia.
Pembangunan gedung tertinggi di dunia selalu di mulai dari titik nol, yang bisa jadi berupa sebuah ayunan pacul di sebuah bidang tanah yang tidak rata.
Pembuatan Airbus 380 sebagai pesawat terbesar di dunia saat ini pastinya juga di mulai dari titik NOL, yang bisa jadi berupa coret2an di kertas putih yang semula bersih.
Titik NOL adalah kilometer NOL, bila anda ingin membuatnya secara terukur.
Tentukan Kilometer NOL dalam setiap langkah anda, setiap kegiatan anda, setiap agenda anda, setiap proyek anda, setiap pekerjaan anda, dan mulailah melangkah,
tahap demi tahap, untuk mencapai tujuan dan sasaran kegiatan anda, seperti roda mobil melangkah meter demi meter, untuk mencapai tujuan perjalanannya.
Sama seperti berkendara, anda memang tidak bisa selalu menginjak gas untuk sesegera mungkin sampai di tempat tujuan.
Anda harus pintar memainkan persneling, kopling dan rem.
Anda harus pintar melihat kiri dan kanan.
Tetapi anda harus selalu fokus ke depan.
Mungkin anda memang harus mundur beberapa meter ke belakang.
Namun itu adalah untuk semakin memuluskan anda melaju ke depan.
Mungkin juga “kendaraan” di kiri atau kanan anda melaju lebih cepat dari anda.
Namun anda juga pasti telah mendahului banyak mobil yang berjalan lebih lamban dari anda.
Hingga akhirnya anda tiba di tujuan anda.
Semua itu dimulai dari Kilometer NOL.
Segera, tentukan Kilometer NOL untuk diri anda.
Popularity: 1% [?]
Walaupun aku seorang insan biasa…
*******************
Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Memang hakku menjadi luar biasa
Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung
Rendah diri dan terperdaya karena dilindungi pihak yang berkuasa
Aku siap menghadapi resiko terencana
Berangan-angan dan membina
Untuk gagal dan sukses
Aku menolak menukar insentif dengan derma
Aku memilih tantangan hidup daripada derma
Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin
Kenikmatan mencapai sesuatu,
Bukan utopia yang basi
Aku tidak akan menjual kebebasanku
Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma
Aku tidak akan merendahkan diri
Pada sembarangan atasan dan ancaman
Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani
Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri
Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata;
“Ini Telah Kulakukan!”
Segalanya ini memberikan makna seorang insan!
*******************Poetry by Dean Alfange
Walaupun pada akhirnya aku adalah insan biasa…
-Insan Biasa
Popularity: 1% [?]
Bekerjalah sebagaimana itik berenang di telaga. Ia melaju dengan tenang dan cantiknya, tanpa membuat permukaan air menjadi berkecipak dan berisik. Ia pun tak perlu membuat sekujur tubuhnya basah kuyup atau merusakkan bulu-bulunya. Bahkan, berenangnya itik itu sendiri selalu menambah keindahan pandangan seluruh telaga.
Namun, tahukah kita bahwa di dalam air sepasang kakinya bekerja keras mengayuh-ayuh. Dan, itu tak tampak oleh mata yang memandangnya.
Kita dapat bekerja dengan keras dan gigih. Dan untuk itu, kita memang tak perlu menyembunyikan luruhan keringat dan tarikan nafas panjang kelelahan, namun kita dapat mengubahnya sebagai sebuah kesukacitaan.
Itu hanya tercapai bila kita meletakkan sumbangsih kerja kita dalam bingkai indah tentang peraihan hidup. Karena kerja adalah bagian dari hidup, maka jangan biarkan kerja jadi noda tinta dalam lukisan tentang kehidupan kita.
Popularity: 1% [?]
Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya?
Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).
Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal?
Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekalin tidak ada pontennya (nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.
Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja dilingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya. “Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu…! Pinter Matematika, Bahasa Indonesia, Menggambar….pokoknya pinter sekali….!” katanya santai. Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus …sekali! Kalau si Yahya hafalannya banyaaak… sekali!”
Ya memang Fani senang sekali membanggakan teman-temannya. ketika mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, “Kalau mbak Fani pinter apa?”
Ia menjawab dengan cengiran khasnya, “Hehehe…kalau aku, sih, biasa-biasa saja”. Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda,tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya Fani memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.
Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.
Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun ) dan Fadila (2,5 tahun) bertengkar. Fani langsung turun tangan. “Sudah..! sudah, Dek! Sama saudara tidak boleh bertengkar. Hayo tadi siapa yang mulai?” Adiknya saling tunjuk.”Hayo, jujur… Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya… saling memaafkan”.
Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya! “Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku dirumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan …”
Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.
Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.
Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai ranking sepuluh besar disekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.
Maka ketika Fani mengatakan “AKU BIASA-BIASA SAJA”, maka saat itu ibunya menjawab “Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?”
Ya… ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah. Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.
Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.
(Di kutip dari email berantai).
Popularity: 1% [?]