04.28.06
Posted in Bijak Biasa at 08:20 by wieok
Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh
salah seorang penonton.
Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik? Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman.
Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya? Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi.
Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar. Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu. Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan
jatuh persis di dekat lobang di lapangan hijau. Bravo! Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya.
Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun, sedikit sekali yang bisa
berpikir kreatif untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan.
(Inspirasi: Paul W. Cummings)
Popularity: 1% [?]
Permalink
02.06.06
Posted in Bijak Biasa at 09:20 by wieok
Pernahkah anda berpikir untuk siapa diri anda bekerja?
Untuk keluarga anda? untuk diri anda? atau untuk orang lain?
Misal gaji anda 1 juta rupiah. Berapa yang bisa anda tabung? 100 ribu? 200
ribu? atau tidak sama sekali?
Jika anda tidak bisa menabung atau bahkan minus (dgn bantuan credit card
misalnya),
maka anda TIDAK bekerja untuk diri anda. Anda bekerja untuk ORANG LAIN.
Bisa jadi anda bekerja untuk PLN.
Bisa jadi anda bekerja untuk TELKOM atau Perusahaan Jasa Selular.
Bisa jadi anda bekerja untuk BANK.
Bisa jadi anda bekerja untuk PERTAMINA.
Bisa jadi anda bekerja untuk toko-toko di Mal2 yang sering anda kunjungi.
Bisa jadi anda bekerja untuk Bioskop 21.
Bisa jadi anda bekerja untuk Warung Rokok sebelah rumah anda.
Bisa jadi anda bekerja untuk bla… bla… bla…
Lho koq bisa?
Iya, sebab penghasilan anda digunakan untuk menambah pundi-pundi uang mereka
tersebut diatas.
Uang anda habis untuk bayar listrik.
Uang anda habis untuk bayar pulsa.
Uang anda habis untuk bayar bunga credit card, bunga cicilan rumah, bunga2
lainnya.
Uang anda habis untuk beli bensin.
Uang anda habis untuk beli baju, barang elektronik, dsb.
Uang anda habis untuk nonton.
Uang anda habis dibakar jadi abu melalui rokok.
Uang anda habis dah pokoknya….
Lalu bagaimana cara bekerja untuk diri sendiri?
Bayarlah diri anda terlebih dahulu.
Bayarlah diri anda dengan 20 % atau 30 % dari pendapatan anda, simpan di
tempat yang aman.
Bisa di simpan di bank.
Bisa di simpan di celengan semar.
Bisa di simpan di bawah kasur.
Lalu sisanya, baru bayar orang lain.
Bagaimana kalo tidak cukup untuk bayar orang lain?
Ada 2 (dua) alternatif.
Pertama, tambahlah pendapatan anda.
Caranya terserah, yang penting halal.
Minta naik gaji kek, kerja overtime kek, usaha apa aja kek, yang penting
pendapatan naek.
Kalo gak bisa cara pertama, cara yang kedua adalah KURANGI bayar-bayar buat
orang lain.
Kurangi nonton TV, hemat listrik.
Kurangi nelpon-nelpon yg gak penting, hemat pulsa.
Kurangi gesek-gesek credit card.
Kurangi jalan-jalan yg ngabisin bensin.
Kurangi ke Mal.
Kurangi nonton bioskop.
Kurangi yang lain-lain yang gak penting-penting amat.
Jadi, mulailah bayar diri anda saat ini.
1 tahun ke depan, lihat isi tabungan anda di bank.
1 tahun ke depan, lihat isi celengan semar anda.
1 tahun ke depan, lihat isi bawah kasur anda.
Percayalah, dengan membayar diri anda mulai sekarang, suatu saat nanti anda
akan “dibayar” oleh uang anda.
Jadi, SUDAHKAH ANDA MEMBAYAR DIRI ANDA BULAN INI?
Popularity: 2% [?]
Permalink